Sebuah kata hati

Demi kehidupan yang lebih baik

Sepakbola Dan Kerusuhan Suporter

Liga Super IndonesiaSiang itu sekitar pukul 14.00 sekelompok muda-mudi berumur belasan tahun yang berjumlah sekitar 15 sampai 20 anak berkumpul disebuah warung kosong lengkap dengan atribut yang berupa spanduk,topi,syal dan lain-lain. Sesaat lagi mereka akan segera berangkat menuju stadion tempat digelarnya pertandingan sepakbola.Tak lama kemudian datanglah seorang lelaki paruh baya dengan mengendarai sebuah kendaraan dengan bak terbuka. Tanpa dikomando anak-anak tersebut langsung berhamburan naik ke bak belakang kendaraan dan berangkatlah mereka menuju stadion.

Kejadian diatas merupakan suatu gambaran bahwa sepakbola merupakan olah raga yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat kita. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa seolah saling berlomba-lomba dalam memberikan dukungan kepada tim kesayangan.Namun tak dapat dipungkiri bahwa dengan semakin meratanya penyuka sepakbola berasal maka akan semakin meningkatkan potensi terjadinya tindakan anarkis oleh penonton/suporter sepakbola. Tak jarang mereka marah/mengamuk saat tim mereka kalah atau mendapatkan hasil yang tak sesuai harapan. Mereka kerap melakukan pelemparan batu/botol minuman ke lapangan dan tak jarang pula tim/suporter lawan menjadi sasaran aksi pelemparan tersebut. Bahkan tak jarang pula aksi yang mereka lakukan telah menjurus kearah tindak kriminal seperti merusak stadion,fasilitas umum,penjarahan terhadap toko dan pedagang kecil dan lain-lain.

Apabila kita cermati kembali bahwa terdapat beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya kerusuhan suporter,yaitu :

1. Rendahnya tingkat kedewasaan suporter.

Bahwa apapun yang terjadi di dalam stadion seharusnya bisa kita terima dengan lapang dada . Apabila dijumpai suatu hal/kejadian yang dianggap salah kita bisa melakukan protes melelui prosedur yang telah ditentukan. Bukan dengan cara main hakim sendiri terhadap wasit ataupun pemain tim lawan. Suporter  saat melakukan tindakan anarkis  seolah mereka tidak sadar bahwa hal itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Klub yang seharusnya kita dukung malah akan mendapati fakta bahwa stadion telah mengalami kerusakan disana-sini dan tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk memperbaikinya. Para pedagang yang menjadi korban penjarahan hanyalah orang kecil yang juga butuh makan untuk dia dan keluarganya. Tidakkah kita merasa kasihan dengan mereka ? Seringkali para pelaku tindak anarkis tersebut hanya berfikir keuntungan untuk dirinya sendiri tanpa pernah peduli dengan kondisi orang lain.

2. Rendahnya  tingkat pendidikan para suporter.

Menurut hasil sebuah survei tak resmi bahwa pelaku tindak kerusuhan tersebut adalah mereka yang kurang mendapatkan pendidikan/bimbingan. Hingga yang terjadi adalah fakta bahwa keberadaan mereka di stadion bukan untuk melecut semangat pemain namun yang terjadi mereka hanya akan menambah beban pemain di lapangan. Sebab seringkali mereka meneriaki dan menghujat pemain dari tim mereka sendiri dengan kata-kata kotor saat sang pemain melakukan kesalahan ataupun yang lainnya sehingga penampilan pemain bukannya lebih baik malah akan semakin kacau dan tak terorganisasi.

3. Minimnya koordinasi antara suporter,organisasi suporter dan klub.

Sejauh ini dari pengamatan saya terkesan bahwa antara suporter dan organisasi yang menaungi mereka serta pihak klubbelum terjalin sebuah komunikasi yang baik. Misalkan saat klub tengah mendapatkan sanksi dari PSSI,seharusnya organisasi suporter yang notabene sebagai penghubung antara suporter dan klub harus mensosialisasikan hal tersebut kepada anggotanya dan sekaligus menghimbau untuk mentaatinya. Namun yang terjadi saat ini antara klub dan suporter seolah berjalan sendiri-sendiri hingga tak jarang pihak klub yang kembali dirugikan oleh ulah pendukungnya.

4. Kredibilitas & sikap PSSI terhadap klub.

kita tahu bahwa PSSI sebagai induk sepakbola nasional memegang peranan penting dalam menentukan arah persepakbolaan kita. Namun sejauh ini PSSI dianggap kurang mampu dalam menjalankan fungsinya. Bahkan telah ramai terdengar tuntutan untuk merombak daftar kepengurusan PSSI.  PSSI masih terkesan tidak konsisten dalam membuat dan memberlakukan sebuah aturan. Dalam mengambil keputusanpun PSSI juga terkesan kurang adil hingga tak jarang muncul perasaan iri dan tak puas terkait keputusan-keputusan yang dibuat hingga berujung pada munculnya hujatan-hujatan terhadap PSSI sendiri.

5. Aksi dirigen yang cenderung kearah negatif.

Hadirnya seorang dirigen seharusnya mampu membuat suporter kita lebih baik. Namun yang terjadi belakangan justru keberadaan mereka lebih memberikan efek negatif  terhadap suporter. Seorang dirigen seringkali memilihkan/meminta suporter untuk menyanyikan lagu-lagu yang bernada provokatif dan hujatan kepada tim/suporter lain sehingga hal ini justru hanya akan semakin menyuburkan jiwa permusuhan di kalangan suporter yang tentu pada akhirnya hanya akan merugikan klub pujaan mereka sendiri.

Namun apapun yang terjadi sudah sepantasnya kita untun saling berjabat tangan dan bersatu membangun kejayaan prestasi sepakbola kita. Akhir-akhir ini PSSI sudah mampu untuk bertindak tegas dengan cara memberikan sanksi baik itu kepada klub ataupun kepada kelompok suporter yang telah berbuat kerusuhan.

Namun jalan kedepan kearah peningkatan prestasi kita masih teramat panjang. Hanya dengan bersatu padu kita tanggalkan fanatisme kedaerahan demi prestasi nasional.

Majulah sepakbola nasional.

Terimakasih.

6 Maret 2010 - Posted by | Sepakbola |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.